Bioskop Kampus: Kuldesak – Mengenang Mati Suri Industri Perfilman Indonesia

//Bioskop Kampus: Kuldesak – Mengenang Mati Suri Industri Perfilman Indonesia

Bioskop Kampus: Kuldesak – Mengenang Mati Suri Industri Perfilman Indonesia

By |2019-07-24T08:28:45+00:00July 24th, 2019|0 Comments

Catatan Pemrograman

Memasuki era 90-an, industri perfilman Indonesia bisa dikatakan sedang “mati suri”. Pasalnya, film yang diproduksi pada masa itu sangatlah minim, hanya berkisar 2–3 setiap tahunnya, dan didominasi oleh film-film tak bermutu yang mayoritas bertemakan seks. Kemunduran perfilman ini juga disebabkan oleh aturan-aturan ketat pemerintah terhadap perfilman yang membatasi kreativitas para pembuat film.

Beruntungnya, ada empat orang filmmaker muda — Nan Achnas, Mira Lesmana, Riri Riza, dan Rizal Mantovani — yang nampaknya berinisiatif untuk melakukan sebuah perubahan besar. Kuldesak, rilis pada tahun 1998, sering disebut sebagai titik balik kondisi perfilman Indonesia, dimana pada saat itu sedang mengalami keterpurukan. Pembuatan film dimulai tahun 1996, dibawah pemerintahan Orde Baru. Peraturan-peraturan yang membatasi pun tidak menjadi halangan bagi keempatnya memproduksi film ini secara underground.

Kata Kuldesak sendiri berasal dari bahasa Prancis ‘cul-de-sac’ yang berarti jalan buntu. Film ini merupakan film Indonesia berformat omnibus pertama yang menampilkan empat cerita berbeda, keempatnya berfokus kepada kehidupan anak muda di Jakarta pada 1990-an. Melalui segmen-segmen yang tidak mempunyai benang merah tersebut, film ini secara keseluruhan menggambarkan kehidupan di kota Jakarta yang erat dengan wacana kesepian.

Selain pemutaran film Kuldesak, akan ada Kintalk (diskusi film) yang dihadiri oleh dua narasumber, yakni Adi Nugroho selaku scriptwriter dan asisten produksi serta Agus Safari selaku perwakilan dan Festival Film Bandung.

Catatan Pemutaran

Untuk pertama kalinya dalam kepengurusan LFM ITB 2019/2020, Bioskop Kampus kembali hadir pada Sabtu, 25 Mei 2019. Dalam penyelenggaraan sesi diskusi, Bioskop Kampus kali ini berkolaborasi dengan program kerja bidang Kineklub, yakni Kintalk. Film yang diputarkan adalah Kuldesak (1998). Sebelumnya, film ini juga pernah diputarkan oleh LFM ITB pada tahun 1998 dan mengundang keempat sutradaranya.

Bioskop Kampus diawali oleh pembukaan dari MC. Setelah penonton mulai memadati ruangan, film mulai diputarkan pada pukul 15:45 WIB. Selanjutnya, sesi Kintalk dimulai. Pada diskusi ini, terdapat dua orang narasumber yang hadir, yaitu Adi Nugroho selaku penulis dan asisten produksi Kuldesak serta Agus Safari selaku perwakilan Festival Film Bandung dan dimoderatori oleh Muhammad Raihan Alwafi dari LFM ITB. Sesaat setelah Kintalk dimulai, azan maghrib berkumandang sehingga para audiens menyimak sambil menikmati takjil yang sebelumnya sudah dibagikan.

Kintalk kali ini mempunyai maksud untuk memberikan para audiens pengetahuan tentang film Kuldesak, yakni film yang digadang-gadang sebagai film yang membangkitkan industri perfilman Indonesia dari “mati suri”-nya di era 1990-an. Kedua narasumber menceritakan bahwa pada masa itu, perfilman Indonesia sedang mengalami keterpurukan. Film-film didominasi oleh film bernuansa porno, menjadikan bioskop sebagai tempat yang kurang kondusif di masanya. Lalu, empat sutradara muda — Nan Achnas, Riri Riza, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani — memutuskan untuk membuat perubahan besar. Film ini membawa empat buah isu yang erat dengan kehidupan di perkotaan, masing-masing menjadi satu segmen dalam film berformat omnibus/ansamble ini.

Proses pembuatan film ini tidaklah mudah, dimana pada masa itu pemerintah sangat membatasi perfilman dengan aturan-aturan yang ketat serta birokrasi yang sulit. Namun, ada banyak pihak yang percaya kepada keempat sutradara dan turut membantu. Faktanya, tidak ada satupun kru maupun cast yang dibayar, sepeserpun. Karena itu pula, film ini berhasil menyabet penghargaan dari Festival Film Bandung.

Di penghujung sesi Kintalk, kedua narasumber berpesan kepada audiens agar selalu menonton dan mencintai film nasional. Acara Bioskop Kampus pun diakhiri dengan sesi kuis berhadiah yang dipandu oleh MC.

About the Author: