GEP Seven: Ekshibisi “Dosa” Mahasiswa Pencinta Film

//GEP Seven: Ekshibisi “Dosa” Mahasiswa Pencinta Film

GEP Seven: Ekshibisi “Dosa” Mahasiswa Pencinta Film

By |2019-03-04T12:48:15+00:00March 9th, 2017|0 Comments

(artikel dimuat pada daily.oktagon.co.id/ekshibisi-dosa-mahasiswa-pencinta-film/)

Tujuh dosa yang mematikan. Istilah religi ini kurang lebih mendefinisikan dosa-dosa yang dilakukan manusia, yang mengakibatkan dosa-dosa lain dan kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya.

Istilah yang berdefinisi cukup negatif, namun di tangan para mahasiswa Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) istilah tersebut justru menjadi tema yang menarik dan penuh dengan aktivitas positif.

7 Deadly Sins: Kala Cermin Tak Lagi Bicara. Itulah tema yang diangkat untuk acara bertajuk Ganesha Exhibition Programme (GEP) 2017. Pagelaran yang diadakan 24 -25 Februari lalu di Taman Sari, Bandung ini menampilkan beragam acara, mulai dari movie screening, pameran foto, seminar, hingga pertunjukan musik. The Daily Oktagon menjadi pendukung acara ini.

Ajakan Kesadaran

Ratusan orang dari berbagai kalangan menghadiri acara tersebut. GEP sendiri merupakan acara klasik di ITB yang terus eksis hingga kini, sejak pertama kali digelar pada 2017. Nada Larasati selaku pimpinan produksi acara mengungkapkan alasan dibalik pemilihan tema tahun ini, bahwa acara yang melibatkan 100 kru ini digelar bukan hanya sebagai apresiasi hasil karya dari para kru Liga Film Mahasiswa dibidang sinematografi, fotografi, dan Kine Club.

“Namun juga diharapkan dapat mengajak para pengunjung yang hadir untuk menyadari kembali kesalahan-kesalahan yang sering tidak kita sadari dan justru kita anggap itu bukan lagi sebuah kesalahan,” ungkap Nada.

Kegiatan mahasiswa yang lain ada di sini. Kali ini lomba balap drone! 

Maka ada salah satu hal menarik dan berbeda juga pada GEP 7 ini, karena para kru Liga Film Mahasiswa ITB tidak hanya memamerkan hasil karyanya, mereka juga membuat sebuah Kine Corner, tempat yang menyenangkan untuk menikmati sajian-sajian film yang memorable. Tempatnya menyenangkan seperti rumah sendiri.

Tak heran pula jika berbagai judul film yang kemudian ditampilkan pada kegiatan movie screening dipenuhi berbagai film yang penuh sarat makna kehidupan. Sebut saja Laut Beserta Makhluknya yang Menenggelamkan, Sembari Menunggu Gelar, Love, Sins, And Broken Things, hingga Tetangga Pak Gesang.

Talkshow Menarik

Yang tak kalah seru, dalam GEP 7 diadakan talkshow bersama Ketua Pewarta Foto Indonesia, Lucky Pransiska. Lucky mengambil tema, “Foto JurnalistIk, tidak mengenal Tabu”.

Menurut Lucky, untuk menjadi seorang fotografer di dunia jurnalistik diperlukan latihan terus-menerus sekaligus banyak melihat referensi karya dari fotografer yang lain. Sebagai fotografer juga sebaiknya bisa mengedukasi para penikmat foto, sehingga tidak hanya sebagai mata pancaharian semata.

“Kalau mau kaya banget, nggak usah jadi jurnalis. Fotografer jurnalistik itu bayarannya paling cuma bisa bangun rumah,” ucap Lucky terkesan bercanda namun penuh makna.

Urusan edukasi misalnya menyangkut kesadaran para jurnalis foto dalam menjunjung kode etik. Kebetulan salah satu peserta talkshow menanyakan tentang cara agar hasil foto yang telah diambil bisa lulus sensor dan kode etik menjadi foto untuk lampiran berita.

“Saat kita memotret, lalu ingin tahu apakah foto tersebut etis atau tidak, cukup memposisikan diri kita sebagai objek yang difoto. Apakah kita mau pose tersebut dipublikasi kan? Jika iya, maka foto kita lolos kode etik, jika tidak berarti ya kita tidak perlu mengedarkannya,” jelas Lucky.

Ada pula acara para jurnalis dalam mencoba smartphone yang super canggih. Simak artikel ini

Setelah talkshow, giliran Arief dari Oktagon mempersentasikan sebuah alat fotografi yang canggih. Namanya Profoto D2. Sebuah produk lighting yang merupakan kombinasi lampu studio dengan flash yang disebut tercepat di dunia. Menurut Arief, kecepatan produk ini hingga 20 kali flash per detik.

Bukan hanya persentasi, Arief juga mempersilahkan para peserta yang hadir untuk mencoba fitur-fitur Profoto D2 yang dibawanya, serta membagikan merchandise menarik.

Gelaran GEP 7 memang penuh dengan acara menarik. Seolah kontradiktif dengan tema acara, berbagai acara justru mendatangkan berbagai “amal kebaikan” alias manfaat bagi siapa pun yang datang hari itu.

About the Author: